Langsung ke konten utama

Tip Survival Trainer di Kondisi 'Anti-Kondusif'

Biasanya, saya cukup lihai menarik konsentrasi peserta bahkan setelah Ishoma, terutama jika ruangannya adem. Tapi kali ini, “berat, bo!”


Hari dimana saya dalam perjalanan ke satu kota yang berjarak 3 jam dari Jakarta, saya sudah bisa membayangkan bahwa hadir sebagai Trainer dalam sebuah acara yang diadakan di sebuah aula atau balai desa di satu wilayah, akan memerlukan effort dua kali lebih banyak. Selain karena pengaruh suhu udara, biasanya aula/ balai itu hanya tersedia kipas, sudah dipastikan akan sumuk, konsentrasi peserta akan terpecah, dan butuh energi double karena volume suara perlu lebih keras, meski tersedia portable sound (yang juga apa adanya). Dan yes, kali ini semua itu terjadi lagi. 


Setibanya di stasiun, cuaca sudah cukup panas. Meskipun sempat nyasar dan tanpa penjemputan (untung ada taksi online!), saya tiba di lokasi 30 menit kemudian. Penyelenggara pasti tidak akan kesulitan dengan saya, karena saya bukan tipe trainer yang manja. Dijemput oke, jalan sendiri pun beres (asal direimburs, ehe).


Saat sesi dimulai, saya mempersiapkan mental terlebih dulu. Bukan karena materi, itu sudah di luar kepala, tapi karena sesi dimulai setelah Ishoma (istirahat, sholat, makan). Tahu sendiri, kan? Habis makan siang, kenyang, udara panas, konsentrasi peserta biasanya sudah bergelut dengan rasa kantuk. Terbukti, tidak? “Iya.” 


Biasanya, saya cukup lihai menarik konsentrasi peserta bahkan setelah Ishoma, terutama jika ruangannya adem. Tapi kali ini, “berat, bo!” Konsentrasi peserta usia 12-18 tahun ini pecah sebagian. Daripada berat juga untuk saya, maka saya coba memetakan wajah-wajah yang masih bisa saya berikan energi di sesi ini. Selebihnya, sudah di luar kendali saya. Tatapan kosong, suasana pasif saat saya berinteraksi dengan peserta, minim komunikasi, yang lebih parah adalah ketika mendapati jawaban-jawaban ngelantur ketika saya coba berinteraksi dengan pertanyaan-pertanyaan spontan. “Duh, ini nih yang bikin energi drop.” Lalu, apa yang saya lakukan?


Lagi, daripada saya malah terbawa suasana nggak nyaman, saya tetap fokus pada peserta yang memiliki minat untuk mendengarkan. Buat saya, apapun kondisinya, materi tetap perlu saya sampaikan dengan runut, dan coba terus berinteraksi. 




Saya yakin, para trainer di luar sana pernah mengalami berbagai kondisi lapangan seperti ini. Namun, jika ada yang membutuhkan insight dari situasi yang saya alami, beberapa tip ini bisa dicoba, meskipun pada akhirnya setiap trainer perlu mencari pola yang paling tepat untuk sesinya


Yang pertama, tentu saja perlu mempersiapkan dan memahami materi sepenuhnya. Namun tidak terbatas pada materi yang baku. Trainer perlu fleksibel dalam memberikan materi dan metodenya, serta disesuaikan dengan kebutuhan demografinya. 


Kedua, pastikan memahami kondisi lokasi dan karakteristik peserta (terutama jika remaja) secara detail, termasuk cuaca dan fasilitas, sebelum hari-H.


Ketiga, memastikan kalau seorang Trainer bisa hadir sebelum sesi, minimal 30 menit – 1 jam sebelumnya, supaya bisa melihat bagaimana kondisi, dan beradaptasi dengan suasana. 


Keempat, jaga kesehatan dan energi pribadi. Mengingat materi adalah pertukaran energi, pertahankan level energi di titik optimal, tidak berlebihan namun juga tidak terlalu pasif


Kelima, gunakan pakaian yang paling nyaman dan disesuaikan dengan konsep acara serta cuaca di lokasi. 


Keenam, karena dalam hal ini peserta yang saya hadapi adalah usia remaja, maka penyampaian materi diupayakan bisa membangun kesadaran dengan bahasa-bahasa yang paling mudah dipahami. Nggak perlu menggunakan istilah-istilah berat. 


Ketujuh, trainer juga perlu memfasilitasi peserta dengan berbagai metode pengajaran. Mulai dari ice breaking, game, dan interaksi yang menyenangkan serta bermakna.


Boleh jadi, tip di atas akan lebih berkembang sesuai dengan pengalaman masing-masing trainer, menyesuaikan kondisi dan situasi di lapangan. 


Pada akhirnya, arena training di lapangan memang penuh kejutan dan kadang menguji mental. Pengalaman ini hanyalah salah satu cermin dari 'uji nyali' yang tidak terhindarkan bagi setiap trainer. Lebih dari sekadar materi, kesiapan mental, kelincahan beradaptasi, dan kemampuan menjaga 'pertukaran energi' adalah modal utama untuk menaklukkan setiap tantangan. 


Hope it help, ya. 

Selamat mengasuh pengalaman :)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perempuan Mandiri Itu Menyenangkan, Tapi Kadang Juga Capek

Ada satu masa di beberapa tahun ke belakang, saya merasa bahwa saya ini adalah Super Mom dan Super Woman. Gimana enggak, saya perlu melakukan segalanya sendirian. Mulai dari urusan domestik rumah, anak-anak, keuangan, dan lingkungan sekitar. Rasanya menyenangkan. Karena saya bisa jadi Bos untuk diri saya sendiri. Saya juga bebas melakukan hal-hal yang saya sukai, mewujudkan mimpi-mimpi tanpa kompromi, termasuk pergi ke mana saja tanpa ada yang melarang. Boleh jadi, kehidupan saya yang seperti itu adalah kehidupan yang diimpikan bagi para Independent Woman. Dan iya, saya menikmati semua itu. Namun di sisi lain, nggak bisa dipungkiri ada rasa lelah yang diam-diam menghampiri. Menjadi perempuan mandiri itu juga pilihan. Pun dengan kondisi saat ini ketika saya telah memiliki pasangan kembali. Terbiasa mandiri membuat saya menemukan arah langkah kaki ini ke mana dan kendali penuh atas segala hal. Hanya saja, saat ini saya perlu berkompromi dengan pasangan atas apa yang ingin saya lakukan. B...

Kuliah Lagi - Tantangan Seru, Di Tengah Hidup Yang Mulai Santuy

Bukan hidup kalau nggak memberikan kejutan-kejutan, ya.  Tapi ya, karena kita hidup, sejatinya kita tetap memiliki harapan.  Siapa sangka, di tengah perjalanan hidup yang sudah mulai santuy, aku malah memutuskan untuk kuliah lagi. Sebuah keputusan yang awalnya datang tiba-tiba, tapi setelah dipikir-pikir, ternyata punya makna besar dalam perjalanan hidupku.   Keputusan ini muncul saat aku merasa ada ruang kosong yang perlu diisi. "Kosong?" Bukannya Mira sibuk terus, ya. Kadangkala, sibuk itu nggak melulu memenuhi ruang yang ada dalam diri. Bisa jadi, beberapa hal sudah tak sejalan, namun tetap perlu dilakukan. Tapi jujur, meski sudah cukup nyaman dengan ritme slow living , ada dorongan dari dalam hati untuk kembali belajar. Karena buatku, sepanjang aku hidup, ya selama itu pula adalah proses belajar. Rumus mengosongkan gelas itu, boleh jadi selamanya akan aku pegang. Usia 40 plus-plus, tau-tau kuliah lagi. "Nyari apa sih, Mir?" :)) Jadi, awalnya begini, Di suatu sor...