Langsung ke konten utama

Postingan

Bertumbuh Bersama Literasi Digital : Cerita Perjalanan Saya dan Siberkreasi

Tidak terasa, perjalanan saya bersama Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi sudah berjalan hampir satu dekade. Dari yang awalnya hanya hadir sebagai perwakilan komunitas Kumpulan Emak Blogger (KEB), hingga akhirnya dipercaya menjalani dua periode sebagai Wakil Ketua Umum Siberkreasi bidang Komunitas dan Kemitraan periode 2020-2023, serta bidang Pengembangan Kolaborasi pada 2023–2025. Selama perjalanan itu, saya belajar satu hal: literasi digital ternyata bukan hanya soal teknologi atau kemampuan menggunakan internet. Lebih dari itu, ini juga tentang manusia, tentang cara kita berpikir, berkomunikasi, membangun empati, hingga bertahan di tengah perubahan dunia digital yang bergerak sangat cepat. Saya masih ingat, tahun 2017 menjadi awal pertama kali saya mengenal Siberkreasi. Saat itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (yang kini menjadi Komdigi) mengundang saya sebagai perwakilan Kumpulan Emak Blogger untuk hadir dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) terkait rencana...
Postingan terbaru

Saat Dunia Terlalu Riuh, Mengapa ‘Mundur Sejenak’ Justru Menyelamatkan?

 "Banyak hal ingin diceritakan dan dituliskan. Faktanya, dalam hidup ini kita akan selalu bertemu dengan kisah dan cerita baru, yang kadang bisa kita cari jalan keluarnya, atau sekadar menerima keadaannya." Assalamualaikum, wr.wb. Hai, semoga saat kamu membaca tulisan ini, kamu dalam keadaan terbaik dari versimu saat ini. Mungkin sedang nggak bahagia, atau mungkin lebih bahagia, apapun itu, saya pun sedang ingin berbagi apa yang saat ini ingin diceritakan.  Oh, iya. Selamat merayakan Hari Raya Iduladha bagi yang merayakan. Semoga semangat ikhtiar kita selama hidup senantiasa mendapatkan ridho dari Allah Swt, dan keikhlasan kita dalam menerima segala kehilangan dapat membuat kita semakin tawakal. Aamiin.  Sejak kehilangan ayahanda tercinta, 3 Mei 2026 lalu, jujur... ini adalah momen yang sangat membuat saya patah hati. Bahkan di hari Idul Adha ini, saya masih merasa kalau Ayah masih ada, menunggu di rumah atas kehadiran saya. Fakta bahwa kesedihan sedalam ini pun, nggak bi...

Riak Kecil dalam Hubungan yang Sebenarnya Baik-Baik Saja

"Hubungan yang sehat bukan berarti bebas dari rasa cemburu atau kekhawatiran. Bahkan dalam hubungan yang terasa stabil sekalipun, kadang muncul momen kecil yang membuat hati sedikit goyah." "Bukan karena kepercayaan hilang, tetapi karena manusia memang tidak selalu bisa mengendalikan emosi yang datang tiba-tiba." Ada satu momen kecil dalam sebuah hubungan yang malah kadang terasa lebih besar dari yang sebenarnya. Bukan karena peristiwa itu wow - luar biasa, tapi karena emosi yang ikut menyertainya. Bayangkan, sebuah hubungan yang sebenarnya berjalan baik saja. Hari-hari juga dilalui dengan cukup tenang. Obrolan hangat dan manja pun terjadi seperti biasa. Perhatian masih terasa. Enggak ada tanda-tanda besar bahwa sesuatu sedang tidak beres. Lalu suatu hari, sebuah detail kecil muncul tanpa diduga, misal : Sebuah histori panggilan telepon. Durasi yang cukup lama. Terjadi di luar jam kerja. Dengan seorang rekan kantor. Atau... Permintaan rekan kerja pada pasangan kit...

Tip Survival Trainer di Kondisi 'Anti-Kondusif'

Biasanya, saya cukup lihai menarik konsentrasi peserta bahkan setelah Ishoma, terutama jika ruangannya adem. Tapi kali ini, “berat, bo!” Hari dimana saya dalam perjalanan ke satu kota yang berjarak 3 jam dari Jakarta, saya sudah bisa membayangkan bahwa hadir sebagai Trainer dalam sebuah acara yang diadakan di sebuah aula atau balai desa di satu wilayah, akan memerlukan effort dua kali lebih banyak. Selain karena pengaruh suhu udara, biasanya aula/ balai itu hanya tersedia kipas, sudah dipastikan akan sumuk, konsentrasi peserta akan terpecah, dan butuh energi double karena volume suara perlu lebih keras, meski tersedia portable sound (yang juga apa adanya). Dan yes, kali ini semua itu terjadi lagi.   Setibanya di stasiun, cuaca sudah cukup panas. Meskipun sempat nyasar dan tanpa penjemputan (untung ada taksi online!), saya tiba di lokasi 30 menit kemudian. Penyelenggara pasti tidak akan kesulitan dengan saya, karena saya bukan tipe trainer yang manja. Dijemput oke, jalan sendiri ...

Dari Self Doubt ke Self Love

 "Terkadang, kita merasa bahwa  suara paling keras itu datang dari orang lain (kritikan), komentar, atau ekspektasi yang bikin tertekan. Tapi sebenarnya, suara yang paling sering bikin kita ragu dan takut justru berasal dari dalam diri sendiri, dari bisikan keraguan yang nggak pernah berhenti. Lucunya, dari bisikan kecil itulah sebenarnya kekuatan terbesar untuk mulai mencintai diri sendiri perlahan-lahan mulai tumbuh." Apa kabar, teman-teman? Semoga selalu sehat dan berbahagia.  Seminggu ini saya nggak keluar rumah. Bukan karena sedang mengasingkan diri, tapi memang sedang menikmati me-time. Saking menikmatinya, seorang kawan bertanya, "apakah saya baik-baik saja?". Alhamdulillah, saya baik. Biasanya, orang yang mulai dan telah mengenal bagaimana saya, akan bertanya-tanya ketika saya nggak muncul dalam interaksi aktif beberapa lingkaran pertemanan. Ini karena dalam sehari-hari, biasanya saya selalu berinteraksi melalui group WhatsApp secara dua arah. Senang rasanya...

Dengar-Dengar, Cinta Itu Soal Kompromi

Seringkali aku dengar, kalau cinta itu soal kompromi. Seringkali juga aku coba memikirkan maknanya seperti apa. Tapi semakin dipikirkan, semakin banyak pertanyaan, apakah kompromi itu sesederhana yang dibayangkan? Nyatanya, pasangan yang sudah bersama puluhan tahun pun masih sering bertengkar soal hal-hal kecil. Lalu, gimana dengan mereka yang baru memulai hubungan? Apakah mereka benar-benar siap untuk berkompromi? Kompromi, katanya, adalah tentang "kita." Bukan lagi sekadar "aku" atau "kamu." Tapi apa arti "kita" kalau di dalamnya masih ada ego yang terus beradu? Mungkin karena itulah, kompromi sering dianggap sebagai seni—sesuatu yang tidak memiliki rumus pasti untuk dilakukan. Secara Teori Interpersonal menurut  Hendrick, C., & Hendrick, S. S. (2002) . Close Relationships: A Sourcebook, kompromi bisa dimaknai tentang sebuah  komunikasi efektif dan keterbukaan (self-disclosure) yang bisa dijadikan landasan bagi keintiman dan kepuasan hubung...

Kuliah Lagi - Tantangan Seru, Di Tengah Hidup Yang Mulai Santuy

Bukan hidup kalau nggak memberikan kejutan-kejutan, ya.  Tapi ya, karena kita hidup, sejatinya kita tetap memiliki harapan.  Siapa sangka, di tengah perjalanan hidup yang sudah mulai santuy, aku malah memutuskan untuk kuliah lagi. Sebuah keputusan yang awalnya datang tiba-tiba, tapi setelah dipikir-pikir, ternyata punya makna besar dalam perjalanan hidupku.   Keputusan ini muncul saat aku merasa ada ruang kosong yang perlu diisi. "Kosong?" Bukannya Mira sibuk terus, ya. Kadangkala, sibuk itu nggak melulu memenuhi ruang yang ada dalam diri. Bisa jadi, beberapa hal sudah tak sejalan, namun tetap perlu dilakukan. Tapi jujur, meski sudah cukup nyaman dengan ritme slow living , ada dorongan dari dalam hati untuk kembali belajar. Karena buatku, sepanjang aku hidup, ya selama itu pula adalah proses belajar. Rumus mengosongkan gelas itu, boleh jadi selamanya akan aku pegang. Usia 40 plus-plus, tau-tau kuliah lagi. "Nyari apa sih, Mir?" :)) Jadi, awalnya begini, Di suatu sor...