12 Juni 2026, adalah hari di mana sedikit harapan kembali hadir dari mahasiswa dan masyarakat sipil terkait kondisi negara ini. Jujur, setiap kali lihat berita tentang aksi mahasiswa, saya (dulu) biasanya berada di posisi yang sama seperti sebagian banyak orang lain: memilih di balik layar. Cukup melihat potongan video yang lewat di media sosial. Membaca berita. Sesekali ikut berdiskusi di kolom komentar. Lalu melanjutkan aktivitas seperti biasa. Tapi sudah sejak 3 tahun terakhir ini, saya merasa perlu untuk ikut bersuara langsung bersama masyarakat alias ikut aksi turun ke jalan.
Tahun lalu, saya pernah ikut turun ke jalan dalam aksi penolakan UU TNI di kawasan Sarinah bersama Suara Ibu Indonesia. Dan kemarin rasanya beda. Kali ini saya datang dan ikut merapat dengan bagian dari tim logistik (mba Nada Arini dkk) - aliansi ibu, relawan dan masyarakat sipil yang membantu mendukung kebutuhan adik-adik (or anak-anak) mahasiswa di lapangan.
![]() |
| Aksi Tolak UU TNI bersama Suara Ibu Indonesia - 25 Maret 2025 |
Sampai di bundaran HI sekitar pukul 14.00, saya langsung menuju titik kumpul di depan Mandarin Oriental Jakarta Pusat. Di sana sudah berkumpul orang-orang dan terus berdatangan dengan tujuan yang sama. Saya sendiri datang bersama suami, dan tujuannya bukan ikut aksi demo langsung, tapi membantu tenaga untuk menyalurkan logistik yang terdiri dari air minum, makanan, dan berbagai kebutuhan lain yang mungkin terlihat sepele, tetapi sangat berarti bagi mereka yang berjam-jam berada di jalan. Dan semua itu donasi dari rakyat, nggak pakai pajak, apalagi APBN :). Satu hal yang menguatkan di hari itu adalah kami bersama-sama atas dasar kepedulian.
Dari pengalaman inilah, saya melihat banyak hal yang sebelumnya tidak pernah benar-benar saya pahami, dibanding kalau saya berada di belakang layar. Turun ke jalan memberikan vibes yang nyata, dan realita pandangan. Ada antusias, semangat, dan nggak bisa dipungkiri ada deg-degan juga :D
Boleh jadi, selama ini aksi demonstrasi sering digambarkan semacam kerumunan massa yang teriak-teriak menyampaikan tuntutan (orasi). Dan saat berada di sana, saya justru bisa lihat sisi lain yang jarang muncul dalam pemberitaan. Ada mahasiswa yang saling menjaga. Ada relawan yang mondar-mandir memastikan kebutuhan peserta terpenuhi. Ada ibu-ibu yang menyisihkan waktu, tenaga, dan rezekinya untuk mendukung anak-anak muda yang mereka bahkan nggak kenal secara pribadi. Jujur, saya sempat menitikkan air mata melihat para mahasiswa dan masyarakat sipil berbaur.
Dan... yang juga menarik plus bikin agak sedikit geram adalah saat perhatian saya tertuju pada jumlah aparat yang berjaga. "What, Wow, Dih..." Itulah ekspresi saya ketika melihat personil polisi dan tentara yang diturunkan secara berlapis untuk menjaga (eh...no no, tepatnya menghadang) aksi mahasiswa ini.
Dari berbagai informasi yang beredar saat itu, jumlah mahasiswa diperkirakan sekitar 1500 hingga 2000 orang. Tapi pengamanan dilakukan secara berlapis. Polisi berjajar di lapisan depan. Tentara berada di lapisan berikutnya. Sebagian dilengkapi senjata. bahkan sampai sore hari pukul 17.00, saya masih melihat jumlah personil terus ditambah.
Saat saya mengunggah foto-foto tersebut di Threads, banyak reaksi dan komentar yang muncul. Ada banyak pertanyaan dan penyataan yang bilang : "kenapa mahasiswa yang menyampaikan aspirasi harus berhadapan dengan pengamanan sebanyak itu?" Ada yang merasa situasinya berlebihan dan komentar : "lebay banget!" And of kors ada juga komentar yang "seolah" membela aparat dengan alasan keamanan. Ya, nggak apa-apa, semua punya perspektif. Tapi di situasi kemarin itu, dengan jumlah mahasiswa tersebut, saya pribadi berasumsi hal tersebut agak berlebihan, ya. Dan dari situ saya juga bertanya-tanya juga, "gimana sebenarnya pengamanan yang seimbang, apakah harus juga dengan menurunkan tentara? Apa nggak cukup polisi saja?"
Setiap menit dan jam terus berlalu, saat rehat saya coba membuka media sosial, apakah informasinya masif? Karena kita tahu, di masa-masa terakhir ini, media juga hampir jarang meliput aksi demo. Dan ternyata, salut untuk Kompas TV yang memiliki sikap untuk menyiarkan secara langsung suasana di sana dengan pantauan drone.
Seperti biasa, media sosial juga dipenuhi berbagai komentar. Ada yang mendukung aksi mahasiswa. Ada yang mengapresiasi keberanian mereka menyuarakan keresahan. Tapi ada juga yang komen seperti gambar di bawah ini, termasuk statement yang bilang kalau yang demo banyak yang hanya ikut-ikutan, nyari perhatian, atau sekadar FOMO.
![]() |
| Menurut kalian gimana soal komentar tersebut? |
Baca komentar itu, saya sempat mikir. Termasuk refleksi soal FOMO (Fear of Missing Out). Wait... bukannya memang sudah sewajarnya ada banyak hal yang seharusnya nggak kita lewatkan, ya? Soal kebijakan publik, pendidikan, harga kebutuhan pokok (akibat dollar dan bbm naik), soal 19 juta lapangan pekerjaan yang dijanjikan, belum lagi hak-hak sipil (bersuara dan lalu dibungkam), termasuk hal-hal yang dampaknya sampai ke kehidupan sehari-hari, bahkan sampai ke meja makan kita. TERMASUK MGB yang berpotensi korupsi (Dan udah kejadian tuh!)
Aku sendiri berpendapat, it's oke sebenarnya kalau memang nggak semua orang harus turun ke jalan. Karena semua orang punya cara masing-masing dalam menyampaikan aspirasi. Itu yang namanya hak setiap warga negara. Dan dari pengalaman kemarin membuat saya sadar sesuatu, yang membedakan saya - yang ada di lapangan dengan yang melihat dari balik layar adalah cara kita memandang orang-orang yang ada di dalam aksi tersebut.
Dari layar ponsel, aksi demonstrasi terlihat seperti kerumunan manusia. Sementara di lapangan, saya berbaur dengan energi ribuan manusia secara nyata. Melihat langsung mereka berorasi dengan suara lantang hingga serak, juga keringat anak-anak mahasiswa/i yang menetes di sekujur tubuhnya, ketegangan wajah mereka, semangat dan antusias mereka dalam jarak dekat ketika kami memberikan logistik langsung ke tangan mereka, dan bagaimana mereka saling jaga satu sama lain, termasuk juga dengan warga sipil.
Eh, faktanya di balik layar, sebagian akun bilang; demo is FOMO. "Hey...!"
Di media sosial orang bisa dengan mudah berkomentar lewat jarinya, malah lebih cepat dibanding otaknya sendiri. Terlalu cepat menilai tanpa berusaha memahami pengalaman yang sedang dijalani orang lain. Istilah sekarang apa tuh namanya, "Tone deaf," ya?
Menjelang maghrib, saya dan suami memutuskan mundur dari lokasi demo, karena menghindari hal-hal yang nggak diinginkan seperti kejadian demo sebelumnya yang menewaskan masyarakat sipil. Jujur, kaki pegel, tenggorokan kering, ditambah badan udah lengket banget karena keringat. Tapi saya pulang dengan rasa bangga, meski kontribusi sedikit dalam aksi ini, seenggaknya saya ikut dari bagian kecil dari sejarah ini.
Buat mahasiswa/i, relawan, gerakan-gerakan dan semua lapisan masyarakat sipil, terima kasih sudah menyuarakan keresahan Indonesia saat ini. Aksi kemarin tentu bukan yang pertama dan terakhir, kita akan terus berjuang bersama untuk mengembalikan hak-hak masyarakat dan kebijakan yang pro rakyat. Karena sesuai pasal 28E ayat 3, UUD 1945, kita memiliki kebebasan menyampaikan pendapat atau demonstrasi. Sudah sewajarnya kita bersuara terus dan terus, tentunya agar Indonesia semakin baik.
.png)
.png)



Komentar
Posting Komentar