Langsung ke konten utama

Sebuah Penghargaan yang Mengingatkan Saya untuk Bersyukur

Beberapa waktu lalu, tepatnya di tanggal 16 Oktober 2025, saya berdiri di atas sebuah panggung untuk menerima penghargaan sebagai Pegiat Literasi Digital Anti-Hoax dalam ajang Anugerah Perempuan Hebat 2025 - Liputan6.com

Dokumentasi foto : Liputan6.com

Jujur, sampai hari ini saya masih merasa penghargaan itu bukan tentang saya seorang.

Karena saat nama saya dipanggil, yang terlintas di kepala justru bukan pencapaian atau prestasi. Yang muncul adalah potongan-potongan perjalanan yang sudah saya lalui selama bertahun-tahun, tentang perjalanan diskusi dan setiap pertemuan kecil yang pernah saya hadiri. Tentang perjalanan menjadi narasumber dari satu kota ke kota lainnya.

Saya juga teringat ribuan peserta yang pernah saya temui, dari ibu rumah tangga, guru, mahasiswa, pelaku UMKM, hingga komunitas-komunitas lokal yang memiliki semangat belajar luar biasa.

Faktanya, literasi digital perlahan sudah jadi bagian dari perjalanan hidup saya. Bukan sekadar topik yang saya pelajari atau saya sampaikan dalam seminar, tetapi sebuah nilai yang saya yakini penting untuk terus diperjuangkan.


Boleh jadi karena itulah, ketika menerima penghargaan ini, saya justru lebih banyak merasa bersyukur daripada bangga. Sebab saya tahu betul bahwa perjalanan di balik satu foto di atas panggung tidak pernah sesederhana yang terlihat. Apalagi bicara Literasi Digital. Di dalamnya ada cerita komunitas Kumpulan Emak Blogger, Siberkreasi dan para pegiat literasi digital lainnya. 

Ada waktu yang dihabiskan untuk belajar. Ada energi yang dicurahkan untuk berbagi. Ada proses panjang membangun komunitas. Ada kolaborasi dengan banyak pihak yang memiliki visi yang sama.Dan yang paling penting, ada begitu banyak orang yang ikut berjalan bersama dalam perjalanan tersebut.

Bagi saya, penghargaan ini bukan garis akhir. Namun lebih terasa seperti jeda sejenak untuk menoleh ke belakang dan menyadari bahwa perjalanan yang selama ini dijalani ternyata memiliki makna. Bahwa setiap kelas yang pernah diisi. Setiap tulisan yang pernah dibuat. Setiap diskusi yang pernah dibangun. Setiap kolaborasi yang pernah dirintis. Semuanya meninggalkan jejak yang mungkin tidak selalu terlihat secara langsung. Dan mungkin, itulah pelajaran yang paling berharga. Mashaallah.

Saya juga menyadari, kalau penghargaan tidak selalu datang dalam bentuk angka yang besar atau sorotan yang ramai. Semuanya hadir secara perlahan, satu-persatu dengan berbagai bentuk. Seperti yang juga selalu saya yakini, semua teman adalah guru. 


Hari ini, kalau ada satu hal yang ingin saya syukuri dari perjalanan literasi digital ini, maka itu adalah kesempatan untuk terus belajar bersama banyak orang. Bahkan untuk menjawab proses itupun, saya sedang mengupayakan untuk menyelesaikan studi S2 yang sudah memasuki penyelesaian tesis. Ini nanti saya cerita di halaman berikutnya blog ini, ya. 

Serta tetap percaya bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten, hari demi hari. Penghargaan ini bukan tentang saya, tapi juga untuk para pegiatl literasi digital di manapun, khusunya di Siberkreasi. Terima kasih untuk perjalanan bertumbuh bersama. Dan nggak lupa, rasa terima kasih ini saya balut dengan rasa syukur pada Allah SWT, terima kasih untuk kedua orangtua atas doa-doanya dalam setiap langkah saya, untuk suami saya tercinta yang menjadi pendukung pertama saya, juga untuk anak-anak saya. Moma did it, kids :)

Salam Literasi Digital 

Ditemani Eggy dan Lita. Terima kasih, kesayangan :-*



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perempuan Mandiri Itu Menyenangkan, Tapi Kadang Juga Capek

Ada satu masa di beberapa tahun ke belakang, saya merasa bahwa saya ini adalah Super Mom dan Super Woman. Gimana enggak, saya perlu melakukan segalanya sendirian. Mulai dari urusan domestik rumah, anak-anak, keuangan, dan lingkungan sekitar. Rasanya menyenangkan. Karena saya bisa jadi Bos untuk diri saya sendiri. Saya juga bebas melakukan hal-hal yang saya sukai, mewujudkan mimpi-mimpi tanpa kompromi, termasuk pergi ke mana saja tanpa ada yang melarang. Boleh jadi, kehidupan saya yang seperti itu adalah kehidupan yang diimpikan bagi para Independent Woman. Dan iya, saya menikmati semua itu. Namun di sisi lain, nggak bisa dipungkiri ada rasa lelah yang diam-diam menghampiri. Menjadi perempuan mandiri itu juga pilihan. Pun dengan kondisi saat ini ketika saya telah memiliki pasangan kembali. Terbiasa mandiri membuat saya menemukan arah langkah kaki ini ke mana dan kendali penuh atas segala hal. Hanya saja, saat ini saya perlu berkompromi dengan pasangan atas apa yang ingin saya lakukan. B...

Tip Survival Trainer di Kondisi 'Anti-Kondusif'

Biasanya, saya cukup lihai menarik konsentrasi peserta bahkan setelah Ishoma, terutama jika ruangannya adem. Tapi kali ini, “berat, bo!” Hari dimana saya dalam perjalanan ke satu kota yang berjarak 3 jam dari Jakarta, saya sudah bisa membayangkan bahwa hadir sebagai Trainer dalam sebuah acara yang diadakan di sebuah aula atau balai desa di satu wilayah, akan memerlukan effort dua kali lebih banyak. Selain karena pengaruh suhu udara, biasanya aula/ balai itu hanya tersedia kipas, sudah dipastikan akan sumuk, konsentrasi peserta akan terpecah, dan butuh energi double karena volume suara perlu lebih keras, meski tersedia portable sound (yang juga apa adanya). Dan yes, kali ini semua itu terjadi lagi.   Setibanya di stasiun, cuaca sudah cukup panas. Meskipun sempat nyasar dan tanpa penjemputan (untung ada taksi online!), saya tiba di lokasi 30 menit kemudian. Penyelenggara pasti tidak akan kesulitan dengan saya, karena saya bukan tipe trainer yang manja. Dijemput oke, jalan sendiri ...

Seperti Hujan Pertama, Blog Ini Membawa Rasa Baru

Hai, selamat datang di blog Ruang Menulis. Kalau sedikit flashback, perjalanan ngeblog aku itu, sudah sampai di hampir 17 tahun. Dulu, aku punya beberapa blog. Dari yang blogspot, wordpress gratisan, sampai upgrade ke hosting dan domain berbayar. Sampai saat ini, blog utamaku yang - boleh jadi dikenal oleh teman-teman ada di mirasahid.com . Bahkan, dari dulu, bentuk template-nya nggak berubah. Yang  berubah adalah bayar domain dan hosting yang tiap tahun naik dan ditagihkan dari penyedia layanan hosting dan domain-nya :)). Memang, sejak memiliki blog, tujuan awalku adalah menjadikan blog sebagai rumah virtual dan legacy-ku untuk segala ide, gagasan dan curhat kehidupan. Sejalan berkembangnya optimasi blog, maka saat itu pun aku memutuskan untuk meng-upgrade blog agar lebih cantik. Dilalah, waktu berjalan, maka setiap masa pun akan berubah. Meski sampai saat ini aku masih sepenuhnya mengelola komunitasku bersama tim, tapi secara pribadi, aku sudah jarang mengoptimasi blog-ku untuk ...