Tidak terasa, perjalanan saya bersama Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi sudah berjalan hampir satu dekade.
Dari yang awalnya hanya hadir sebagai perwakilan komunitas Kumpulan Emak Blogger (KEB), hingga akhirnya dipercaya menjalani dua periode sebagai Wakil Ketua Umum Siberkreasi bidang Komunitas dan Kemitraan periode 2020-2023, serta bidang Pengembangan Kolaborasi pada 2023–2025.
Selama perjalanan itu, saya belajar satu hal: literasi digital ternyata bukan hanya soal teknologi atau kemampuan menggunakan internet. Lebih dari itu, ini juga tentang manusia, tentang cara kita berpikir, berkomunikasi, membangun empati, hingga bertahan di tengah perubahan dunia digital yang bergerak sangat cepat.
Saya masih ingat, tahun 2017 menjadi awal pertama kali saya mengenal Siberkreasi. Saat itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (yang kini menjadi Komdigi) mengundang saya sebagai perwakilan Kumpulan Emak Blogger untuk hadir dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) terkait rencana pembentukan Gerakan Nasional Literasi Digital. Dan tepat pada tanggal 2 Oktober 2017, Siberkreasi resmi diluncurkan.
Rasanya campur aduk antara senang, penasaran, sekaligus antusias. Karena saat itu, KEB menjadi satu-satunya komunitas blogger perempuan yang ikut dilibatkan dalam proses awal perjalanan terbentuknya Siberkreasi.
Dari ruang diskusi kecil itulah, saya melihat bagaimana sebuah gerakan besar mulai dibangun. Pertemuan demi pertemuan dilakukan dengan penuh antusia dan semangat. Kami mendiskusikan banyak hal, mulai dari nama, logo, arah gerakan, hingga mimpi besar tentang bagaimana literasi digital bisa menjangkau masyarakat lebih luas.
Dari sana juga, saya sadar bahwa gerakan ini tuh bukan sekadar tentang program. Melainkan tentang orang-orang yang punya keresahan dan harapan yang sama terhadap ruang digital di Indonesia. Karena itu, Siberkreasi terbentuk oleh organisasi/ komunitas multistakeholder, bukan oleh individu.
Dalam perjalanannya, Siberkreasi bersama Kementerian Kominfo (kini Komdigi) dan berbagai komunitas pegiat literasi digital terus mengembangkan pendekatan edukasi yang lebih dekat dengan masyarakat. Salah satu yang paling saya ingat adalah lahirnya modul literasi digital “CABE”, pada 16 April 2021, yang diinisiasi oleh JAPELIDI (Jaringan Pegiat Literasi Digital), ICT Watch, Sibekreasi dan Komdigi.
CABE merupakan singkatan dari: Cakap, Aman, Budaya, dan Etika Digital.
Empat pilar ini kemudian menjadi fondasi utama dalam banyak program literasi digital di Indonesia. Karena seperti yang saya bilang sebelumnya, literasi digital bukan hanya tentang bisa menggunakan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat mampu berpikir kritis, menjaga keamanan diri di ruang digital, memahami budaya digital, serta membangun etika saat berinteraksi di internet.
Buat saya pribadi, modul CABE menjadi pengingat bahwa ruang digital tidak hanya membutuhkan orang-orang yang “melek teknologi”, tetapi juga manusia yang tetap punya empati, tanggung jawab, dan kesadaran sosial saat menggunakan teknologi itu sendiri.
Seiring berjalannya waktu, perjalanan bersama Siberkreasi juga membawa saya pada begitu banyak kesempatan untuk terlibat langsung dalam edukasi literasi digital, baik secara online maupun offline. Jika dihitung, mungkin sudah lebih dari 10.000 jam saya habiskan untuk berbagi, berdiskusi, belajar, sekaligus mendengarkan begitu banyak cerita dari masyarakat dengan latar belakang yang berbeda-beda sejak tahun 2017 hingga kini.
Mulai dari ibu rumah tangga, pelajar, guru, mahasiswa, komunitas, disabilitas, lansia, hingga pelaku UMKM, dan semuanya memiliki tantangan yang berbeda saat berhadapan dengan dunia digital. Inilah kenapa literasi digital bukan soal kebutuhan tambahan, melainkan bekal penting untuk bisa bertahan, bertumbuh, dan tetap relevan di era sekarang.
Karena alasan itu, saya juga membawa semangat literasi digital ini ke dalam komunitas yang saya dirikan bersama para perempuan, yaitu Kumpulan Emak Blogger (KEB). Saya percaya, perempuan juga perlu memiliki ruang belajar yang aman dan suportif agar bisa terus berkembang di ruang digital.
Bukan hanya agar mampu menggunakan teknologi, tetapi juga supaya perempuan memiliki keberanian untuk berkarya, membangun personal branding, memperluas jejaring, hingga tetap berdaya secara ekonomi dan sosial di tengah perubahan digital yang terus bergerak cepat.
Dan mungkin, itu salah satu hal yang paling saya syukuri dari perjalanan ini, karena literasi digital bukan hanya mengubah cara kita menggunakan internet, tetapi juga membuka lebih banyak kesempatan bagi perempuan untuk bertumbuh dan menemukan potensinya.
Hari ini, mungkin masa kepengurusan saya di Siberkreasi telah selesai. Tidak lagi berada di dalam struktur, tidak lagi menjalankan peran sebagai Wakil Ketua Umum seperti beberapa tahun terakhir. Tapi semangat untuk terus belajar, berbagi, dan mengajak masyarakat lebih bijak di ruang digital akan selalu hidup di dalam diri saya. Saya percaya, semangat literasi digital tidak berhenti hanya karena sebuah jabatan selesai. Dan nilai inilah yang akan terus saya bawa dalam kehidupan sehari-hari.
Selama masih ada ruang untuk berbagi, saya ingin tetap berjalan di jalur ini, membawa semangat literasi digital ke komunitas, ke perempuan-perempuan yang sedang bertumbuh, ke ruang-ruang diskusi kecil, hingga ke kehidupan sehari-hari yang mungkin terlihat sederhana, tetapi punya dampak besar bagi banyak orang.
Jika perjalanan ini mengajarkan saya satu hal, maka itu adalah: jangan pernah berhenti belajar, dan jangan pernah ragu untuk mengajak orang lain bertumbuh bersama.







Komentar
Posting Komentar