Belakangan ini, ada satu hal yang terus mengendap dalam pikiran saya. Bukan karena berita yang ada aja gebrakannya setiap hari. Bukan juga karena lihat angka-angka ekonomi, dollar, bbm naik, dan pejabat kita yang makin hari makin astagfirullah, tetapi juga karena mendengar cerita dari orang-orang di sekitar yang boleh jadi ini juga relate dengan kehidupan teman sekalian
Cerita-cerita yang awalnya terdengar biasa saja, atau percakapan di grup pertemanan yang saling bertanya kabar melalui pesan singkat, semua itu bisa saja memicu kondisi yang memengaruhi emosi. Semakin sering mendengarnya, saya mulai menyadari satu pola yang sama.
Faktanya, banyak orang yang sedang menghadapi masa yang nggak mudah.
Ada yang sedang mencari peluang baru. Ada yang sedang berusaha mempertahankan apa yang sudah dimiliki. Ada yang kehilangan. Ada juga yang harus menunda rencana-rencana yang sebelumnya sudah disusun dengan matang. Bahkan, ada yang nggak tahu harus ngapain. :(
Tapi hebatnya, sebagian besar dari mereka tetap terlihat baik-baik saja.
Jujur, kalau dengar ceritanya secara langsung, mungkin saya pribadi nggak akan pernah tahu bahwa mereka sedang membawa begitu banyak hal di dalam pikirannya. Pun nggak terkecuali saya saat ini.
Karena itulah akhir-akhir ini aku lebih berhati-hati ketika melihat kehidupan orang lain. Terutama di media sosial. Karena media sosial sering kali hanya neglihatin hasil akhirnya. Kita masih melihat foto liburan, pencapaian, kesuksesan, atau senyuman seseorang di depan kamera. Padahal di balik layar, bisa jadi ada perjuangan yang nggak pernah diceritakan, ada air mata yang hanya dilangitkan pada Ilahi.
Dan itu bikin saya teringat pada satu konsep dalam psikologi yang disebut Shared Reality.
Sederhananya, manusia cenderung merasa lebih kuat ketika menyadari bahwa apa yang sedang ia alami ternyata juga dirasakan oleh orang lain.
Bukan karena masalahnya menjadi hilang.
Tetapi karena ia tahu bahwa dirinya tidak sedang berjalan sendirian.
Mungkin itu pula yang saya rasakan akhir-akhir ini.
Saat mendengar cerita dari orang lain, saya menyadari bahwa setiap orang sedang membawa perjuangannya masing-masing. Secara ekonomi, pekerjaan, kesehatan mentalnya, berjuang dalam keluarga, berjuang menghadapi kehilangan. Iya, perjuangan yang bentuknya berbeda-beda, tetapi sama-sama membutuhkan keberanian untuk dijalani.
Karenanya, saya merasa kita perlu sedikit lebih lembut kepada sesama. Nggak buru-buru menghakimi. Nggak terlalu cepat membandingkan hidup. Dan nggak mudah menganggap hidup orang lain selalu lebih mudah daripada hidup kita. Sebab bisa jadi, orang yang hari ini terlihat paling tenang justru sedang menghadapi badai yang nggak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Kalau ada satu pelajaran yang sedang saya pelajari dari fase ini, mungkin adalah tentang empati. Tentang menyadari bahwa setiap orang sedang membawa sesuatu yang nggak selalu terlihat. Juga tentang memahami bahwa terkadang, bentuk dukungan paling sederhana yang bisa kita berikan adalah hadir, mendengarkan, dan tidak menghakimi.
Kalau akhir-akhir ini hidup terasa lebih berat dari biasanya, percayalah, kamu tidak sendirian. Pelan-pelan saja. Nggak apa-apa kalau saat ini langkahmu sedang melambat. Karena bertahan dan tetap berjalan di tengah situasi yang tidak mudah pun, sering kali sudah menjadi bentuk keberanian yang luar biasa.

Komentar
Posting Komentar