"Banyak hal ingin diceritakan dan dituliskan. Faktanya, dalam hidup ini kita akan selalu bertemu dengan kisah dan cerita baru, yang kadang bisa kita cari jalan keluarnya, atau sekadar menerima keadaannya."
Assalamualaikum, wr.wb.
Hai, semoga saat kamu membaca tulisan ini, kamu dalam keadaan terbaik dari versimu saat ini. Mungkin sedang nggak bahagia, atau mungkin lebih bahagia, apapun itu, saya pun sedang ingin berbagi apa yang saat ini ingin diceritakan.
Oh, iya. Selamat merayakan Hari Raya Iduladha bagi yang merayakan. Semoga semangat ikhtiar kita selama hidup senantiasa mendapatkan ridho dari Allah Swt, dan keikhlasan kita dalam menerima segala kehilangan dapat membuat kita semakin tawakal. Aamiin.
Innalillahi wainnailaihi rojiuun. S
ejak kehilangan ayahanda tercinta, 3 Mei 2026 lalu, jujur... ini adalah momen yang sangat membuat saya patah hati. Bahkan di hari Idul Adha ini, saya masih merasa kalau Ayah masih ada, menunggu di rumah atas kehadiran saya.
Nggak pernah ada yang ngasih tau, kalau kehilangan seperti ini akan menjadi patah hati paling dalam sepanjang saya hidup. Nggak pernah ada yang bilang, kalau kepergian seorang Ayah akan membuat retakan hingga ke akar yang paling kuat, seolah genggaman itu terlepas dan membawa saya ke tepi jurang.
Lelaki pertama saya, sang penjaga dan pelindung yang nggak pernah ragu meyakini bahwa anak perempuan satu-satunya ini mampu menerjang badai sekeras apa pun. Namun kini, ia telah pulang selamanya.
Nggak ada lagi tempat saya kembali. Nggak ada lagi sosok bijaksana yang selalu meyakinkan saya bahwa segalanya akan baik-baik saja. Nggak ada lagi petikan gitar dan nyanyian merdu dari tangannya yang selalu terasa hangat. Fakta bahwa kesedihan sedalam ini pun, nggak bisa saya pungkiri. Ternyata, sedalam ini, ya, sedihnya kehilangan Ayah untuk selama-lamanya.
“Pah, neng benar-benar kehilangan...”
Sampai saat tulisan ini tayang pun, air mata saya masih menetes saat mengingat Almarhum. Al Fatihah. "Tenang di sana ya, Mpah."
Namun dengan segala sesak ini, neng melepasmu dengan rido. Inshaallah mama akan kami jaga sepenuh jiwa raga kami, anak-anaknya.
Selamat pulang ke rumah sejati ya, Pah. Ke tempat di mana nggal ada lagi rasa sakit. Doa neng akan selalu jadi jembatan yang menghubungkan kita, selamanya. I Love you, My Man.
Selain kesedihan tentang kehilangan ayah, ada satu perasaan yang nggak bisa saya deskripsikan saat ini, dan juga pernyataan yang ingin saya ungkapkan, tapi saya sendiri nggak tau seperti apa persisnya. Mencoba berusaha tenang, berusaha menahan, berusaha bahwa semua baik-baik saja, tapi ya begini... rasanya kok ada yang belum keluar ya.
Di era saat ini, semua terasa lebih berat dari sebelumnya, saat media sosial juga terasa riuh dengan berbagai kabar tentang kondisi saat ini, emosi mudah terkuras, pikiran mudah terasa lebih berat, persoalan-persoalan seperti masih terasa stuck dan belum menemukan jalan keluar. Sebagian orang, mungkin termasuk saya boleh jadi mencoba untuk tetap yakin bahwa apapun yang dialami saat ini, adalah bagian yang tetap perlu disimpan di belakang layar saja. Karena saya meyakini, kita sedang berjuang dengan jalan masing-masing.
Karenanya, saya juga merasa perlu untuk membatasi hal-hal yang bisa mendistract emosi pada hal-hal yang nggak seharusnya. Bukan karena saya baik-baik saja, tapi justru karena untuk tetap baik-baik saja, maka saya perlu mundur sejenak. Termasuk dalam kehidupan sosial atau kehidupan personal.
Entah sampai kapan kondisi ini berlangsung, tentang rasa kehilangan, tentang bertahan dalam pijakan, dan tentang semua yang terjadi saat ini. Bukan untuk memaksakan mencari jawabannya, di halaman ini saya hanya ingin jujur dengan diri sendiri, kalau lagi 'nggak baik-baik' pun, nggak apa. Saya menerima... kalau kata Bernadya; "Ada waktu-waktu, hal buruk datang berturut-turut. Semua yang tinggal juga yang hilang, seberapapun absurd-nya, pasti ada makna."

Dalam hening aku berdoa, dalam diam aku mencari jalan.
Untuk kamu yang juga sedang menahan banyak hal di belakang layar... nggak apa-apa kalau hari ini kamu sedang tidak baik-baik saja. Kita sedang berjuang dengan jalan masing-masing. Kalau boleh tahu, gimana cara teman-teman menemukan tenang di tengah riuhnya dunia saat ini? Boleh share, ya untuk saling menguatkan.
Komentar
Posting Komentar