Langsung ke konten utama

Saat Dunia Terlalu Riuh, Mengapa ‘Mundur Sejenak’ Justru Menyelamatkan?

 "Banyak hal ingin diceritakan dan dituliskan. Faktanya, dalam hidup ini kita akan selalu bertemu dengan kisah dan cerita baru, yang kadang bisa kita cari jalan keluarnya, atau sekadar menerima keadaannya."

Assalamualaikum, wr.wb.

Hai, semoga saat kamu membaca tulisan ini, kamu dalam keadaan terbaik dari versimu saat ini. Mungkin sedang nggak bahagia, atau mungkin lebih bahagia, apapun itu, saya pun sedang ingin berbagi apa yang saat ini ingin diceritakan. 

Oh, iya. Selamat merayakan Hari Raya Iduladha bagi yang merayakan. Semoga semangat ikhtiar kita selama hidup senantiasa mendapatkan ridho dari Allah Swt, dan keikhlasan kita dalam menerima segala kehilangan dapat membuat kita semakin tawakal. Aamiin. 

Sejak kehilangan ayahanda tercinta, 3 Mei 2026 lalu, jujur... ini adalah momen yang sangat membuat saya patah hati. Bahkan di hari Idul Adha ini, saya masih merasa kalau Ayah masih ada, menunggu di rumah atas kehadiran saya. Fakta bahwa kesedihan sedalam ini pun, nggak bisa saya pungkiri. Ternyata, sedalam ini, ya, sedihnya kehilangan Ayah untuk selama-lamanya. Sampai saat tulisan ini tayang pun, air mata saya masih menetes saat mengingat Almarhum. Al Fatihah. "Tenang di sana ya, Mpah."

Selain kesedihan tentang kehilangan ayah, ada satu perasaan yang nggak bisa aku deskripsikan saat ini, dan juga pernyataan yang ingin saya ungkapkan, tapi saya sendiri nggak tau seperti apa persisnya. Mencoba berusaha tenang, berusaha menahan, berusaha bahwa semua baik-baik saja, tapi ya begini... rasanya kok ada yang belum keluar ya.

Di era saat ini, semua terasa lebih berat dari sebelumnya, saat media sosial juga terasa riuh dengan berbagai kabar tentang kondisi saat ini, emosi mudah terkuras, pikiran mudah terasa lebih berat, persoalan-persoalan seperti masih terasa stuck dan belum menemukan jalan keluar. Sebagian orang, mungkin termasuk saya boleh jadi mencoba untuk tetap yakin bahwa apapun yang dialami saat ini, adalah bagian yang tetap perlu disimpan di belakang layar saja. Karena saya meyakini, kita sedang berjuang dengan jalan masing-masing.


Karenanya, saya juga merasa perlu untuk membatasi hal-hal yang bisa mendistract emosi pada hal-hal yang nggak seharusnya. Bukan karena saya baik-baik saja, tapi justru karena untuk tetap baik-baik saja, maka saya perlu mundur sejenak. Termasuk dalam kehidupan sosial atau kehidupan personal. 

Entah sampai kapan kondisi ini berlangsung, tentang rasa kehilangan, tentang bertahan dalam pijakan, dan tentang semua yang terjadi saat ini. Bukan untuk memaksakan mencari jawabannya, di halaman ini saya hanya ingin jujur dengan diri sendiri, kalau lagi 'nggak baik-baik' pun, nggak apa. Saya menerima... kalau kata Bernadya; "Ada waktu-waktu, hal buruk datang berturut-turut. Semua yang tinggal juga yang hilang, seberapapun absurd-nya, pasti ada makna."

Dalam hening aku berdoa, dalam diam aku mencari jalan.

Untuk kamu yang juga sedang menahan banyak hal di belakang layar... nggak apa-apa kalau hari ini kamu sedang tidak baik-baik saja. Kita sedang berjuang dengan jalan masing-masing. Kalau boleh tahu, gimana cara teman-teman menemukan tenang di tengah riuhnya dunia saat ini? Boleh share, ya untuk saling menguatkan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perempuan Mandiri Itu Menyenangkan, Tapi Kadang Juga Capek

Ada satu masa di beberapa tahun ke belakang, saya merasa bahwa saya ini adalah Super Mom dan Super Woman. Gimana enggak, saya perlu melakukan segalanya sendirian. Mulai dari urusan domestik rumah, anak-anak, keuangan, dan lingkungan sekitar. Rasanya menyenangkan. Karena saya bisa jadi Bos untuk diri saya sendiri. Saya juga bebas melakukan hal-hal yang saya sukai, mewujudkan mimpi-mimpi tanpa kompromi, termasuk pergi ke mana saja tanpa ada yang melarang. Boleh jadi, kehidupan saya yang seperti itu adalah kehidupan yang diimpikan bagi para Independent Woman. Dan iya, saya menikmati semua itu. Namun di sisi lain, nggak bisa dipungkiri ada rasa lelah yang diam-diam menghampiri. Menjadi perempuan mandiri itu juga pilihan. Pun dengan kondisi saat ini ketika saya telah memiliki pasangan kembali. Terbiasa mandiri membuat saya menemukan arah langkah kaki ini ke mana dan kendali penuh atas segala hal. Hanya saja, saat ini saya perlu berkompromi dengan pasangan atas apa yang ingin saya lakukan. B...

Tip Survival Trainer di Kondisi 'Anti-Kondusif'

Biasanya, saya cukup lihai menarik konsentrasi peserta bahkan setelah Ishoma, terutama jika ruangannya adem. Tapi kali ini, “berat, bo!” Hari dimana saya dalam perjalanan ke satu kota yang berjarak 3 jam dari Jakarta, saya sudah bisa membayangkan bahwa hadir sebagai Trainer dalam sebuah acara yang diadakan di sebuah aula atau balai desa di satu wilayah, akan memerlukan effort dua kali lebih banyak. Selain karena pengaruh suhu udara, biasanya aula/ balai itu hanya tersedia kipas, sudah dipastikan akan sumuk, konsentrasi peserta akan terpecah, dan butuh energi double karena volume suara perlu lebih keras, meski tersedia portable sound (yang juga apa adanya). Dan yes, kali ini semua itu terjadi lagi.   Setibanya di stasiun, cuaca sudah cukup panas. Meskipun sempat nyasar dan tanpa penjemputan (untung ada taksi online!), saya tiba di lokasi 30 menit kemudian. Penyelenggara pasti tidak akan kesulitan dengan saya, karena saya bukan tipe trainer yang manja. Dijemput oke, jalan sendiri ...

Seperti Hujan Pertama, Blog Ini Membawa Rasa Baru

Hai, selamat datang di blog Ruang Menulis. Kalau sedikit flashback, perjalanan ngeblog aku itu, sudah sampai di hampir 17 tahun. Dulu, aku punya beberapa blog. Dari yang blogspot, wordpress gratisan, sampai upgrade ke hosting dan domain berbayar. Sampai saat ini, blog utamaku yang - boleh jadi dikenal oleh teman-teman ada di mirasahid.com . Bahkan, dari dulu, bentuk template-nya nggak berubah. Yang  berubah adalah bayar domain dan hosting yang tiap tahun naik dan ditagihkan dari penyedia layanan hosting dan domain-nya :)). Memang, sejak memiliki blog, tujuan awalku adalah menjadikan blog sebagai rumah virtual dan legacy-ku untuk segala ide, gagasan dan curhat kehidupan. Sejalan berkembangnya optimasi blog, maka saat itu pun aku memutuskan untuk meng-upgrade blog agar lebih cantik. Dilalah, waktu berjalan, maka setiap masa pun akan berubah. Meski sampai saat ini aku masih sepenuhnya mengelola komunitasku bersama tim, tapi secara pribadi, aku sudah jarang mengoptimasi blog-ku untuk ...